Pintu Kaca di Bandara Peristwa ini aku alami seminggu sebelum Hari Idul Fitri setahun yang lalu. Saat itu pamanku dari Palembang mengabarkan akan pulang untuk berlebaran di rumah nenek di Pekanbaru. Kebetulan aku,ayah,ibu,kakak,dan adik masih tinggal serumah dengan nenek. Pada hari yang ditentukan, kami sekeluarga menjemput paman di bandara. Jadwal kedatangan pesawat dari Palembang pukul 19.00. Kami sekeluarga agak tergesa-gea karena tidak ingin paman terlalu lama menuggu di bandara. Begitu sampai di bandara, aku berlari-lari kecil paling depan dengan harapan dapat menyambut paman sekeluarga lebih dahulu. Akan tetapi, saat melewati pintu masuk utama bandara, aku menabrak pintu kaca! Pintu kaca itu sangat bening sehingga tida terlihat oleh ku dan aku tabrak. Aku tidak menyangka kalau ada kaca di situ. Ku pikir pintunya telah terbuka. Beberapa orang yang melihat kejadian ini tertawa terpingkal-pingkal. Ayah,ibu,kakak...
teruntuk daun kecil penebar teduh Daun kecilku Apakah masih ingat ketika kita awal besapa? Dua insan asing bersua,berucap rangkai kata Perlahan dekat hingga sekarang lebih dari saudara Kau ini, Si kecil yang pandai mnapat atensi Daunku,anggrek ini tidak tahu bagaimana harus menyebutmu apakah daun kecil hijau muda cocok untuk mu? ketika insan mengindramu,sejuk merebak,merasuk sanubari Berapa tirta fajar yang hinggap padamu? Namun sekarang ada satu tirta yang ku asa sanggup membuat daunmu terus berpendar hijau cerah. Aku ingin menjadi tirta yang menemani sang daun kecil hingga hijau sempurna menjadi kawan pengarung masa, meski ku tau ini tak lebih dari virtual buana
Komentar
Posting Komentar